Sabtu, 17 Januari 2015

Pengarang itu Tidak Pernah Mati



"Karya Sastra Menembus Zaman"


Karya pengarang, baik berupa puisi, esai, cerpen, novel, dan dst…mampu mestimulus daya hidup dalam menjalani kehidupan ini. 

Pengarang sudah memtransformasikan ide dan gagasan dalam mengarifi  sisi lain dari kehidupan itu sendiri. Kendati Chairil Anwar dan Rendra sudah tiada, karyanya masih tetap hidup menembus zaman.

Pengarang itu tidak mati. 

Banyak orang belajar bagaimana kata-kata bisa saksi. Kata-kata menjadi punya kekuatan. Tak heran,  karya para pujangga tidak pernah lengang oleh waktu. Pramudya Ananta Toor , Motinggo Busye, Buya Hamka, telah memberikan inspirasi untuk kita dalam merenungi kehidupan ini.

“Aku ingin hidup 1000 tahun,” ungkap Khairul Anwar dalam puisi “Aku”. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, begitu cetus Rendra, banyak dikutif banyak orang dan menjadi api semangat yang menggelora. 

Bahkan, saat Arswendo Atmowiloto di penjara—gara-gara kasus yang membelitnya, dia makin ganas. Idenya menembus jeruji besi. Karya tetap mengalir tak terbendung. 

Untuk memupuk dan menjaga budaya mengarang serta melestarikannya, karya sastra yang adiluhung serta menghargai dan menggelorakan kehidupan pengarang, banyak  pihak mengapresiasinya dengan memberikan penghargaan.

Salah satu contoh, Kompas, secara rutin menerbitkan buku cerpen terbaik dari karya pengarang terpilih. Ajang ini adalah sarana yang terus dikembangkan untuk melahirkan karya sastra yang prestisius dan abadi. (catatan garib)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar