Sabtu, 17 Januari 2015

Menciptakan Donasi dari Kepengarangan



 "Inspirasi Pengarang untuk Kemajuan Bangsa"

Setelah sukses berkeliling dunia—laporan jurnalistiknya yang dimuat serial di media dan menginspirasi membikin novel, Gola Gong mendirikan “Rumah Dunia”. 

Rumah Dunia menjadi sarana aktivitas berharga para kawula muda. Rintisan Heri H Harisl yang sempat  mengenyam pendidikan di Unpad—kendati tidak tamat, sangat mengunggah banyak pihak.

Rumah Dunia boleh dibilang sebanyak “sekolah” untuk mencetak karya kreatif seni baca tulis, gebrakan “literasi” dan teater. Gola Gong sudah mengubah kampung Ciloang menjadi kampung dunia.  Agenda budaya baik untuk seminar, pelatihan, lomba, aksi, dan pementasan menjadi agenda rutin yang menggebrak  dunia.

Seluruh tekad, irama hidup dan kiprah di dunia untuk kemajuan seni sastra komtemporer. Aksi dan gerakannya  didonasikan  untuk kepentingan sosial. Itulah, salah satu contoh bagaimana menciptakan donasi  dari hasil kepengarangan.

Suatu ketika, aku pernah mendatangi “rumah meranjat” milik Eka Budianta, sastrawan Indonesia yang tinggal di Depok. Dia juga dikenal sebagai penggiat humaniora. Aku terkesan bisa berjumpa dengannya. Melalui dia saya belajar bagaimana menulis puisi. Rumah Meranjat miliknya sudah menginspirasiku untuk tetap teguh menjadi pengarang.

Menariknya, di rumah unik itu, dia memiliki perpustakaan pribadi dengan ribuan buku. Kegiatan Eka Budianta didonasikan untuk kepentingan lingkungan hidup, banyak puisi dan esainya mengangkat kecintaan akan lingkungan hidup.

Taufik Ismail, sastrawan Indonesia yang penuh dedikasi dan terpanggil untuk menyebarkan virus-virus sastra ke Nusantara. Melalui program “Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab” dia berkeliling Indonesia. Penulis “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” ini juga menciptakan “Rumah Puisi”.

Rumah puisi lahir dari gagasan penyair kenamaan Taufiq Ismail, yang tumbuh dari pengalaman kolektifnya bersama tim redaktur Horison dan sahabat-sahabat sastrawan se-Indonesia. Bermodalkan uang dari hadiah sastra Habibie Award 2007 sebesar US$ 25.000 (atau Rp 200 juta setelah dipotong pajak), sastrawan kelahiran Bukittinggi ini membangun rumah puisi yang berlokasi di tempat yang selama ini diimpikannya.

Pembangunannya dimulai 1998 dan pada ulang tahun Taufiq Ismail ke-55, ia pun meluncurkan bukunya yang berjudul Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit, yang seluruh hasil penjualannya ditujukan untuk menambah biaya pembangunan rumah puisi ini.

Diberi nama rumah puisi, bukan berarti kegiatannya semata-mata berkaitan dengan persajakan saja. Ia merangkum seluruh aktivitas yang bersangkutan dengan literatur dan literasi, karya sastra, pembacaan dan latihan penulisannya, dengan warna keindahan puitik sebagai intinya. Sesungguhnya seluruh karya sastra, yaitu sajak, cerita pendek, novel, drama dan esai, semuanya pasti memiliki keindahan puitik masing-masing yang khas, lalu digunakanlah istilah puisi sebagai kata sifat bersama dan payung dari seluruh karya sastra.

Kegiatan yang diadakan di Rumah puisi di antaranya pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia, membaca dan berlatih menulis siswa Sanggar Sastra, apresiasi sastrawan Indonesia dan Minangkabau, akses buku-buku perpustakaan yang jumlah koleksinya mencapai ribuan buku, menghadirkan Sastrawan Tamu dari daerah lain selama 15 hari-1 bulan, interaksi antar sastrawan dengan guru dan siswa dan interaksi antar sastrawan. Semua program ini dirancang untuk menumbuhkembangkan minat pelajar, guru dan masyarakat umum pada sastra dan melahirkan karya-karya sastra yang bermutu tinggi di kemudian hari.

Begitu pula dengan Ayip Rosidi, sastrawan yang pernah atau tinggal di Jepang sebagai dosen ini mendonasikan hasil  kreatifnya untuk “ngamumule” (melestarikan) budaya Sunda. Melalui Yayasan Rancage dia membuka “kran” yang tak pernah mati untuk kelangsungan kehidupan kebudayaan, khususnya sastra Sunda. Kepiawaiannya tentu mampu menggairahkan kesusastraan mutakhir. (catatan garib)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar