Sabtu, 17 Januari 2015

Nyanyian Pilu Anak Jalan

Cerpen: Garib Ganjar Santika



Seusai subuh, Amik, si tukang rongsok bukan main kagetnya. Setiap hari dia bekerja sebagai pengangkut sampah—kali ini harus mendapatkan mayat bayi yang terbujur kaku dalam kantong plastik di dalam tong sampah. Siapa lagi yang sudah membuang mayat bayi tak berdosa itu?

Dalam sebulan terakhir ini, cerita warga soal bayi yang dibuang orang tak dikenal --diduga merupakan hasil hubungan gelap yang dibuang di sembarangan tempat seperti di sungai, sudut pasar , tempat sampah, sangat mengusik jiwaku.

Siapa sesungguhnya pelaku yang sudah membunuh si  jabang bayi? Siapakah  ibu atau bapak yang  dengan sengaja membunuh dan melemparkannya  ke sembarang tempat itu?

Aku tak kuat menahan bau anyir mayat bayi yang sudah membusuk. Kepalaku pening. Aku bergidik tak tahan melihat jasad kaku yang nasibnya merana. Orang-orang merubung sambil menutup hidung.
Inalillahi waina ilahi rajiun  Pagi ini semua mata warga seakan ingin mengutuk pelaku tak bertanggungjawab itu. Pasar gaduh. Banyak orang menangis dan merasa iba.

“Siapa yang tega sudah membunuh makhluk ciptaan Allah? Siapa? Siapa? Siapa?”
“Sungguh biadab, ibu yang durhaka sangat keji.”
“Kayaknya bayi ini hasil hubungan gelap. Sangat memalukan!”
“Mau enaknya aja bikin sembunyi-sembunyi sudah jadi bayi dibuang percuma…!”
Orang-orang ramai membicarakan kejadian tadi pagi yang memilukan.     
    
Aku mundur dan menjauh dari keramaian. Polisi datang dan mencari data dan fakta di TKP. Beberapa saksi dimintai keterangan. Warga yang ingin melihat jelas dari dekat terpaksa diusir polisi. Garis polisi sudah menghalangi.

“Kalau masih hidup aku pingin adopsi bayi itu,” celetuk Susi, salah seorang pedagang tempe yang sudah 10 tahun menikah namun belum punya anak.

“Andai aku bisa hamil dan punya bayi, aku pasti akan rawat bayi, tak mungkin seperti ini,” timpah yang lain.
“Aku rindu bayi,” ucap seorang gadis Rahma yang baru menikah tiba-tiba terisak.

Aku masih terpana menyaksikan adegan dramatis yang memiriskan hati. Ibu yang yang jahat mengapa kau tega buang bayi sembarangan? Kenapa harus dibuang ke dalam tong sampah? Apakah bayi itu sampah?
Apakah sang ibu malu, dan sang ayah juga tak mau mengakui bayi itu? Tapi kenapa harus dibuang dalam kantong kresek dan mati dalam sebuah tong sampah?

Kenapa pula, bayi itu tidak dititipkan kepada panti asuhan saja? Atau kenapa tidak diberikan kepada wanita yang benar-benar sanggup merawatnya? Seperti Susi atau Rahma yang sanggup adopsi? Lantas siapa pula yang sudah membantu perilaku jahat tersebut? Dokter ataukah dukun beranak—yang demi uang terpaksa menyalahi sumpah dan etika profesi? Kota ini sudah kotor, berita seputar pembuang bayi bukan hanya di sini, di Pasar Angin, sebuah kota M yang tengah menggeliat. Aku juga ngeri mendengar berita di TV bahwa pembuang bayi di seantero negeri ini makin hari makin banyak jumlahnya. Bayi-bayi tak berdosa mati dengan sia-sia.

*
Tiba-tiba aku teringat ibuku. Tak sadar mata ini berair. Di mana sesungguhnya ibuku? Bukankah aku juga adalah anak yang kurang beruntung. Ibuku meninggal sesaat setelah melahirkanku. 

“Ibumu sudah tiada, “ aku teringat kata nenekku bahwa ibuku tak bisa diselamatkan akibat pendarahan yang hebat.

”Cuma kamu yang selamat,” terang nenek, ”Kau harus banyak bersyukur. Meski tak mengenal ibu, kau harus balas kebaikan ibumu dengan hidup yang baik.”

Nenekku terisak saat membeberkan riwayatku.
”Lalu ayahku di mana?” Tanyaku.
Nenek malah menangis dan sesunggukkan sambil terus mengelus rambutku.
”Kau yang penting hidup. Maknai kehidupanmu dengan baik,” ucap seorang perempuan yang sudah melahirkan ibuku itu.

Aku tak paham. Aku tak mengerti. 

Nenek melanjutkan, dengan terbata-bata mengatakan bahwa ibuku adalah korban perkosaan. Ibuku diperkosa oleh pemuda mabuk yang sering keluar masuk penjara. Jadi bapakku seorang residivis kambuhan?

”Ibumu menyelamatkan janin dan menjadi hamil kemudian melahirkanmu. Itulah takdir, itulah nasib yang menjadi kehidupanmu. Ibumu berpulang namun menghantarkan ke dunia ini. Kau lahir, ibumu meninggal. Itulah kehidupan antara ada dan tiada….”

Aku bagaikan disambar petir. Kepalaku pusing bukan kepalang. Tubuhku limbung dan sempoyongan.
Aku sungguh tak terima keadaan nasibku dan kehidupanku. Apa arti semua ini? Mengapa kenyataan itulah kehidupan aku. 

Kau jadilah air yang mengalir, terbanglah bersama burung, nenek terus menasehatiku. Dialah sesungguh ibuku. Nenek adalah pendorong agar aku tetap hidup dan menghadapi hidup penuh semangat.…
“Kau harus tetap hidup….meski riwayatmu sungguh tragis…”

“Ya nek…tapi aku benci ayahku. Ke mana sesungguhnya ayahku? Dia tak tanggung jawab…” Aku marah dan meninju tembok hingga tanganku berdarah. Pada usia 17 tahun itulah, aku mulai tahu, kisah pahit masa silamku.

Seharusnya dalam usiaku yang kata teman-temanku—adalah usia masa pubertas, masa pacaran dan memiliki pacar. Masa bersenang-senang dan menikmati hidup sebagai pemuda yang wajar. Tapi, tidak bagiku. Aku adalah anak jadah, yang hina dina dan hidup sebatang kara.

Di mana sebenarnya ayahku? Di mana? Aku meledak-ledak.
Aku mengucek-ngucek mataku. Tiba-tiba aku melayang kepada peristiwa masa laluku.

*
Polisi mengkremasi bayi malang itu dan membawanya ke RS terdekat. Orang-orang melihat dengan penuh isak tangis. Tapi banyak juga yang menyumpah-nyumpah pelaku kejahatan itu.

”Siksa di alam kubur nanti juga ada balasannya,” cetus Mang Karta.
“Dasar wanita bejat…dan bapak yang kejam…sungguh biadab…” tambah Kusen.

Aku melongo. Kalau begitu, aku adalah anak haram. Kalau saja ibuku tak menyelamatkanku, apakah aku juga akan bernasib sama; menjadi bayi yang dibuang dalam tong sampah? Apakah ayahku adalah pemerkosa? Dan, kenapa pula, hal itu menimpa aku?

Aku lahir, tumbuh, dan besar di jalan. Ibuku rembulan dan bapakku matahari. Rumahku entah di mana, yang jelas – rumahku adalah pasar, terminal, jalanan, dan di mana saja semauku. Aku adalah anak kehidupan alam itu sendiri. Untuk hidup aku bekerja apa saja. Menjadi kuli bangunan, buruh, atau apa saja demi sesuap nasi, aku lakukan. Mengais rupiah dengan keringat dan kerja keras di pasar.

Kuambil sebatang rokok dan menyulutnya. Kres… Hup… Aku menghisap rokok itu dan menghembuskan asapnya ke udara. Bagaikan mengelurkan kekecewaan yang menyesak dalam dada ini. Aku coba lupakan tentang ibu dan ayah, juga tentang bayi yang dibuang itu…

*
Siang itu pasar gempar. Para pedagang terbelalak saat selintas berita kriminal menyiarkan peristiwa tragis soal bayi yang dibuang di sembarang tempat itu. Seorang laki-laki dengan tato menghiasi tubuhnya ditangkap polisi. Kamera menyorot tersangka pelaku dari belakang.

Tapi ada salah seorang kuli pasar berteriak: “Dia Garang…Saya hafal betul…Gak pernah insyaf dia…Mampuslah…Dia masuk lagi penjara…..”
“Masa sih….” Seru Meti, pedagang cabe.

“Dia yang pernah memperkosa Mawar, anaknya Mamih Mia….” Jelas si kuli itu.
Aku terhuyung dan jatuh. Bukanlah mawar adalah ibuku? Seperti cerita nenek itu? Inikah nyanyian pilu anak jalanan itu?                                                                                                                                                                              

Kota Angin 201014
Sumber: Radar Cirebon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar