Sabtu, 17 Januari 2015

Mengarang, Merangsang Otak untuk Berkreativitas



 "Menciptakan Mesin Uang yang Tak Ada Habisnya"

Mengarang adalah kerja yang mudah dan murah yang bisa menciptakan mesin uang yang tak ada habisnya. 

Untuk menghasilkan karangan, kita tidak akan kesulitan mendapatkan bahan baku. Seorang petani terancam tak bisa panen mengingat curah hujan tinggi dan harga pupuk melambung tinggi. 

Seorang pedagang martabak sedih saat mendengar harga gas melambung  dan harga telur masih tajam. Seorang pembisnis percetakan merasa cemas saat harga kertas terancam naik saat BBM dinaikkan.

Begitu banyak dunia usaha dan dunia bisnis terancam saat bahan baku langka atau harganya naik. Tetapi tidak, dengan dunia mengarang karena bahan baku sangat tersedia di sekitar kita. Bahan utama adalah ide dan kedua kemauan (skill). Setelah itu, kertas dan pulpen. Murah, kan?

Sebagai contoh, penulis buku Bambang Trim, menyebutkan, dengan modal Rp30.000,- untuk membeli kertas--ketika kreativitas disalurkan menjadi karya, kelak modal tersebut bisa menghasilkan Rp30 Juta. Sebuah nilai yang fantastis bukan?

Seorang penulis cerpen, dengan mengarang antara 4-6 halaman mampu dihargai honor antara Rp50 Ribu hingga jutaan--hal ini tergantung di media mana dipublikasikan. Analisanya, bila seseorang rajin mengarang dan dimuat di berbagai media, tentu akan menghasilkan uang yang tak sedikit.

Menariknya, saat dunia maya sudah merajai wahana internet, fasilitas internet semakin memudahkan untuk membantu proses kepengarangan.

Apa sesungguhnya manfaat mengarang? Setelah bergelut dengan karangan, aku merasakan bagaimana dunia mengarang dapat merangsang  otak, menyalurkan gelisah hobi, sarana pengembangan ilmu, membagi ilmu dan pengalaman batin, dan berinteraksi dengan pembaca. (catatan garib)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar