Sabtu, 17 Januari 2015

Memburu Novel, Merenungi Sastra




"Membaca Novel, Menyelami Makna Kehidupan"

Untuk memasuki ke dunia karang-mengarang, sangat mustahil jika tidak hobi membaca. Saat aku berkuliah di Fakultas Sastra Jurusan Editing Unpad, sekitar tahun 91-93, aku sangat tertantang mengikuti jejak tokoh-tokoh besar yang menjadikan membaca sebagai kebutuhan.

Salah satu dosenku, Wilson Nadeak--yang dikenal sastrawan Indonesia-- memiliki ribuan koleksi buku di rumahnya. Kegemaran membaca akan beriringan dengan aktivitas kepengarangan. 

Membaca adalah aktivitas keseharian yang tidak bisa dilepaskan. Sejak pagi hingga malam, bacaan apa saja baik suratkabar, majalah, dan buku, selalu menemaniku. Aku harus lahap akan bacaan.

Terpaksa aku harus merogoh banyak uang untuk "makananku" itu. Di sisi lain, secara finansial buku-buku harganya mahal. Karena aku lahap, tak heran sering berlama-lama mengunjungi perpustakaan umum atau toko buku murah. 

Salah satu buku yang sering kuburu adalah buku kumpulan cerpen dan novel. Hunting buku yang menarik dan banyak membaca seolah sudah menjadi kebiasaanku.

Aku mengenal teknik mengarang dari Buya Hamka setelah membaca "Di Bawah Lindungan Kabah". Aku berani mengarang setelah Gola Gong menginspirasi bagaimana keberanian adalah sikap hidup yang harus dijalani. Aku juga menemukan keliaran ide atau gagasan dari Buku Kumpulan Cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam "Darah itu Merah, Jendral." Begitupula, aku bisa enak membaca dan bergairah--dan menemukan makna keragaman dan status sosial saat membaca Novel Pasar karya Kuntowijoyo. 

Selain itu, setelah membaca novel best seller Syahadat Cinta, novel spiritual pembangunan iman, karya Taufiqurahman Al Azizy, aku bisa menemukan betapa syahdunya romantika kehidupan dan balutan relijius memaknai kehidupan ini. Hal serupa aku simak dari novel Saatirah karya Niknik M Kuntarto, seorang dosen yang berasal dari Kabupaten Majalengka. Betapa sabar, teguh, dan kuat menghadapi romantika rumah tangga, menjadi intisari yang memilukan.

Banyak membaca sama artinya dengan banyak menyelami arti kehidupan. Pengarang novel setidaknya sudah memberikan saripati kehidupan dan hikmah yang memperkaya batin, khususnya para pembaca.

Hal ini sejalan dengan salah satu cara untuk bisa membuat novel yang ampuh--yang kudapatkan dari sebuah laman di internet. Stephen king pernah berkata, “Jika Anda tidak punya waktu untuk membaca, maka Anda tidak akan punya waktu untuk menulis.”

Otak Anda ibarat mesin produksi. Bacaan adalah bahan bakunya sedangkan tulisan adalah produk jadinya. Bila Anda banyak membaca maka akan ada banyak tulisan yang bisa Anda produksi. Namun bila Anda sedikit membaca, maka hanya ada sedikit tulisan yang bisa Anda produksi, atau bahkan tidak ada sama sekali.

Ya, dengan banyak membaca, maka Anda punya banyak bahan untuk menulis. Karena Anda punya banyak inspirasi. Untuk menghadirkan inspirasi menulis, Anda harus membaca apa saja. Tidak hanya tulisan yang berkualitas baik, tulisan yang buruk juga mengandung inspirasi.Ya, di dalam bacaan selalu terdapat inspirasi.

Bila tulisannya bagus, berkualitas dan best seller maka ini jelas, Anda akan mendapat pelajaran yang baik. Dan bila tulisannya jelek, Anda juga bisa mendapatkan pelajaran yang baik, serta inspirasi. Misalnya, setelah membaca sebuah novel yang menurut Anda kurang bagus, Anda berpikir dan berkata, “Tulisan nggak mutu. Namun ceritanya menarik.” tiba-tiba muncul ide di kepala Anda. Dan Anda pun berkata dalam hati, Aku bisa bikin novel yang lebih bagus dari ini.

Nah, begitulah cara sang inspirasi muncul. Sang inspirasi sangat suka melihat kita membaca yang banyak karena itu adalah umpan yang sangat menarik baginya.

Seorang penulis bernama William Faulkner pernah berkata, “Baca, baca, baca. Baca segalanya: tulisan “sampah”, tulisan klasik, tulisan yang baik dan tulisn yang buruk. Amatilah bagaimana cara mereka menulis. Berlakulah seperti seorang tukang kayu magang yang sedang belajar sama master (ketika membaca dan mengamati tulisan orang lain, peny). Bacalah! Anda akan menyerap banyak pelajaran.”

Dia melanjutkan, “Kemudian beri catatan. Jika itu baik, Anda akan tahu. Jika tidak, buanglah.”
Ya, bacalah apa saja: koran, buku, robekan koran, robekan buku, novel yang best seller, cerpen yang menarik, novel “sampah”, cerpen nggak mutu. Bacalah! Anda akan menemukan banyak cara membuat novel yang baik yang baik. Anda akan menemukan banyak pelajaran. Yang baik adalah pelajaran, yang buruk juga pelajaran.

Jadi, setelah Anda mengetahui cara cepat menghadirkan inspirasi untuk menulis novel, apakah Anda siap membaca yang banyak untuk menulis novel yang Anda idam-idamkan?

Demikian postingan tips cara cepat mendatangkan inspirasi menulis novel. 

Sekarang, tidak ada lagi untuk membuang waktu percuma. Setelah banyak membaca dan menyimak, akan makin kaya akan ide yang segar, baru dan memukau hati. Rupaya aku tak sabar ingin mengembangkan pengalaman batin tersebut. Mudah-mudahan dapat menyalurkan kreativitas menjadi novel yang memiliki sikap hidup dan mengisi ruang batin pembaca. (catatan garib)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar