Minggu, 01 Februari 2015

Pahlawan Keluargaku




Kupu-Kupu yang Menari di Mata Ibu



Cerpen Garib Ganjar Santika

Tantri bingung. Tugas mengarang guru Bahasa Indonesia di sekolahnya soal kepahlawan dalam benaknya tak menemukan sosok atau figur yang harus dibanggakan. Dia ingin bercerita soal kisah pahit yang dialami ibunya sendiri.

“Aku ingin curhat aja, bukan cerpen,” keluhnya.

Teman sebangkunya, Anita sudah menyelesaikan karangannya soal kegigihan tukang serabi yang sudah dijalaninya secara turun temurun, yang biasa mangkal di sekitar kompeks Kasepuhan Kota Udang itu.
Yunita, sahabatnya, mengangkat kisah sukses seorang ibu pembuat batik yang bisa menyekolahkan anak-anaknya dan meraih sarjana.

“Ibuku juga gigih, dia rela mengorbankan harga diri demi sesuap nasi,” cetus Tantri.

Namun, dia masih ragu, apakah karangannya akan dianggap vulgar atau mengada-ngada? Apakah gurunya akan marah bila membaca kisah sedih mamanya itu? Apakah ibunya juga akan menanggung malu jika kelak kisahnya terbongkar yang selalu melayani lelaki hidung belang?

“Aku tak bisa berbohong dan tak bisa mengarang,” hibur hatinya.

Karangan Tantri memang belum selesai tapi dia tak peduli. Mendadak dia jadi gamang, apa sih maksud sang guru memberikan pelajarang mengarang? Apakah untuk mengorek kehidupan pribadi setiap muridnya? Apakah pelajaran mengarang supaya para murid selalu mengelabui kehidupan yang sesungguhnya?
Apakah lebih terhormat sebagai tukang serabi atau perias salon kecantikan? Apakah lebih terhormat sebagai guru agama daripada menjadi seorang penjaja cinta?

Tantri benar-benar bingung. Kembali, dia hanya ingin curhat saja. Curhat atas peristiwa yang memiriskan hatinya. Curhat atas kenyataan hidupnya yang memilukan. Dia ingat ayahnya yang terus menerus harus masuk rumah sakit, dia juga ingat saat adik-adiknya yang masih balita harus diberikan susu yang kini harganya melambung?

Ibuku seorang pekerja seks komersial (PSK). Itu lebih terhormat daripada disebut sebagai pelacur. Ia sudah bekerja siang-malam, demi menghidupi aku, adikku, dan bahkan ayahku—yang kini hanya bisa terbaring akibat penyakit yang menahun diabetes.

Kalau tak ada ibuku, mungkin ayahku sudah tiada. Ibu, meski dihina, dicaci maki, oleh banyak orang, menurutku adalah pahlawan.

Entah harus mulai dari mana kisah pahit ibuku. Saat teman-temanku membanggakan sosok dan figur ibu yang menjadi guru, politisi, anggota DPRD, bupati, pengusaha, atau pedagang. Tetapi, aku hanya bisa membanggakan kisah ibuku sebagai pelacur jalanan, oh tidak, PSK profesional.
Aku hidup karena dia. Aku bangga padanya kendatipun orang-orang menghinaku sebagai anak haram. Walaupun di kampungku, keluargaku dicemoohkan, aku merasa bangga punya ibu. Dia pejuang sejati. Dia mata hatiku.

Ibuku, dengan jerih payahnya mampu menghidupi aku hingga bisa bersekolah.
“Nak, Ibu rela menjadi pelacur,” kata ibuku.
“Nak, belajarlah dengan tetap semangat…”
“Nak, gapailah masa depanmu…”

Masih terngiang jelas di telingaku dan menjadi api semangat dalam hidupku.
“Kau harus seperti air yang mengalir, menjadi udara yang menyejukkan hidupmu. Atau kau harus seperti batu yang kuat pendiriannya. Jangan seperti ibu yang seperti kupu-kupu malam…”
Tapi tidak bu, aku tak melihat ibu sebagai kupu-kupu malam. Aku selalu melihat kupu-kupu menari di mata ibu. Kupu-kupu yang terbang dengan bebasnya, memiliki tubuh indah dan penuh warna. Kupu-kupu yang tak pernah letih, hinggap di setiap bunga. Kupu-kupu yang eksotik memberikan cahaya hidup ini.

“Kalau tak ada ibu, semuanya akan mati,” dia berurai air mata. Tantri merasakan sakit hatinya. Kenapa nasibku sangat menyedihkan. Ya, Tuhan, alamat apakah ini? Mengapa kawan-kawanku memiliki ayah dan ibu yang berpenghasilan lebih? Mengapa, aku ditakdirkan memiliki ibu yang tidak wajar dan keluarga yang malang? 

**

Tantri dipanggil Bu Ratna, guru bimbingan dan pembinaan (BP) gara-gara karangannya dianggap terlalu vulgar dan menelanjangi kaum hawa; melecehkan dan menghina derajat wanita. Dalam pelajaran mengarang dia bercerita soal ibunya yang menjadi pelacur jalanan.

“Tantri, segera menghadap guru BP,” kata Pak Iwan wali kelasnya. “Ada apa, Pak? Aku salah apa, ya,” elak gadis berambut pirang—karena di cat metalik, sebuah mode rambut terkini mirip artis atau selebritis di TV.
“Tantri, cepat, kamu benar dipanggil guru BP,” rupanya Pak Iwan merasa kesal dan jengkel.
Tantri celingukan,”So what? Ada apa gitu lhoh?” 

Guru Iwan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak didiknya itu. Rambut pirang, jam tangan besar, dan rok mini, itukah gaya anak sekolahan sekarang ini? Di leher gadis imut-imut itu tampak tato kupu-kupu menghiasinya. Fenomena macam apakah ini? Budaya apakah sesungguhnya yang sudah menggejala ini dan sangat cepat merasuki anak-anak tanggung?

Dengan langkah pasti Tantri segera menemui guru BP. “Ceritakan yang jujur Tantri, ada apa dengan ibumu?” Tiba-tiba Bu Ratna langsung to the point.

Tantri masih diam. “Maksud Ibu apa ya, soal apa ya…” Dia melototi wajah gurunya itu.
“Apakah karanganmu itu betul-betul menceritakan kisah ibumu?”

Tantri terkesiap, bukan main kagetnya. Sangat menohok jiwanya. Jadi selama ini, teman-teman dan guru-guruku sudah membaca cerpenku? Dia sudah menulis riwayat hidup ibu kandungnya sendiri yang menjadi pelacur jalanan—yang menghidupi dirinya, adik-adiknya dan ayahnya—yang kini sakit-sakitan?
“Masa Allah, benarkah cerita itu?”
“Betul, Bu,”
“Astaghfirullah al adzim…”
“Aku menulis kisah pahit ibuku. Teman-temanku di saat ibunya ulang tahun selalu memberikan kado dan jalan-jalan ke mal dan menaktrirnya. Tapi aku hanya bisa memberikan kado berupa cerpen “Ibuku Seorang Pelacur”…”
“Ya, ampun,”

“Dengan mengisahkan ibu, aku berusaha menghargai perjuangan ibuku dalam mengarungi hidup ini. Ibuku, pahlawanku, semangat yang tak pernah padam,”
Bu Ratna sangat terharu dan tanpa disadarinya air matanya berlinang. “Kau hebat, kau jujur…” dia terisak.
“Tapi, aku malu, Bu?”
“Kenapa?”
“Teman-temanku mengejekku sebagai anak perek, anak haram…”
“Sabar, Nak?”
“Aku minta maaf sudah membuat malu keluargaku,”
“Kembangkan bakatmu, Nak. Kau berbakat jadi pengarang…” lagi-lagi Bu Ratna memujinya.

Tantri pamit dan kembali ke kelas.
“Banyak kisah pahit yang akan kutulis, Bu,” katanya sambil meninggalkan guru BP itu.
Bu Ratna tak membalasnya dan hanya memandangi langkah gadis bau kencur yang polos, jujur, dan apa adanya. Namun, dia bangga dengan kejujuran gadis berusia 16 tahun itu.
“Mengapa ibumu terus melacur, Nak?” Kembali Ratna terisak sendiri.
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Apakah karena ayah dan ibu mereka sudah tak mampu membiayai kehidupannya?  Apakah banyak orang tua yang bekerja apa saja asal anaknya bisa sekolah? Apakah biaya pendidikan itu sudah mahal?

*

Dewan pendidikan dan komite sekolah bersepakat mengadakan rapat atas terkuaknya salah satu murid yang mengungkap jerih payah ibunya untuk menyekolahkan anaknya dengan menjadi pelacur. Dunia pendidikan merasa sudah tercoreng?
“Tantri harus dikeluarkan….” Cetus Hamdani, sang kepsek SMK Mandiri Pertiwi yang dikenal penuh disiplin dan galak ini.
Semua guru merasa dipojokkan. Hasil rapat memutuskan agar Tantri dikeluarkan saja atau dipindahkan ke sekolah lain. Benarkah gadis eksentrik itu dianggap sudah menodai wajah sekolah yang mengusung visi sekolah relijius? Benarkah dia sudah menghina martabat kaum wanita?
“Kami malu. Kita gagal mendidik anak,” seru Ahmad, guru agama.
“Apalagi kota kita berpredikat kota wali, sangat prihatin ada anak pelacur sekolah di sini,” timpal Rohendi, guru IPA.

Buruk muka cermin dibelah. Begitulah, hanya karena kejujuran seorang Tantri, yang menyingkap sisi lain dari kehidupan ini, semua mendapat malu. Siapa sesungguhnya yang salah dalam hal ini?
“Tantri itu hanya salah satu contoh murid yang jujur,Pak,” celetuk Tata, guru IPS, “Ada lagi yang perlu kita ulas. Ayahnya Tom kini meringkuk di penjara. Beliau mencuri TV hanya karena sudah tidak punya uang untuk bekal anaknya.”
“Ibunya Irma juga sama Pak, dia masuk jeruji besi gara-gara ikut mengedarkan ganja, Pak,” tak mau kalah kali ini Bu Mira terpaksa menceritakan.
“Ini semua gara-gara kurikulum yang salah, Pak. Kita sering mengganti kurikulum sementara sangat sedikit pelajaran moral, Pak?”
“Bapaknya Arman koruptor, Pak. Dia jadi tahanan kejaksaan,”
“Ibunya Aris juga diciduk polisi, Pak. Dia terpaksa jadi kurir narkoba yang menggiurkan.”
“Sudah, sudah, saya pusing membahasnya…” Hamdani naik pitam dan rapat dihentikan.
Dekadensi moral sudah terjadi. Akhlak sudah runtuh. Miras oplosan merenggut nyawa anak-anak muda. Aparat keamanan malu dan dapat kecaman. Para guru dianggap tidak memberikan pendidikan moral yang benar. Para pejabat bagaikan ditampar mukanya.
“Robohnya moral kami,” Hamdani merenung sendiri.

**

Dua tahun kemudian. 

Seorang gadis cantik dengan rok mini yang mengundang hasrat lelaki tampak gelisah di persimpangan jalan malam itu. Gadis itu mengangkat HP dan bercakap-cakap dengan seseorang di seberang sana.
“Halo sayang, sabar ya, saya bentar lagi nyampe,”
“Ya, Ayah, aku selalu menunggumu,”

Malam itu Kota C bagaikan bermandikan cahaya. Banyak gedung dan hotel memamerkan kemewahan. Pusat pertokoan terasa menggeliat. Hilir mudik kendaraan silih berganti dan derunya seperti nada-nada yang bergema. Kota C sudah memanjakan kaum berduit. Segalanya harus dibeli dengan uang. Uang dan gengsi hidup sudah mengakar dari waktu ke waktu.

Malam ini, gadis mulus dan seksi itu harus menemani tidur seorang pejabat negara.
“Rp5 Juta untuk long time, kalo short time Rp.2 Juta,” seru gadis itu.
“Kok tarifmu naik sayang,”
“Semua harga sudah merangkak naik, kan, hehe,”
“Oke, deh.”

Begitulah, dari malam ke malam, dari waktu ke waktu, gadis itu tanpa disadari sudah menjadi profesi untuk kehidupannya. 

Malam-malam seusai kencan untuk yang kesekian kalinya, dia menggumam: aku menjadi pelacur…
Tantri mengambil diarinya dan menulis: Maafkan aku, ibu, aku terpaksa menjadi kupu-kupu malam…***

Kota C, 04012015, Garib Ganjar Santika, menyandang ransel, hidup untuk menulis, menulis untuk hidup.

Sabtu, 31 Januari 2015

Di Mana Sesungguhnya Ayahku?



Kenapa Kau Buang Aku di Sini, Nak?

Cerpen Garib Ganjar Santika

Lelaki berambut gimbal, dengan baju compang-camping, dekil, dan baunya minta ampun—yang biasa tiduran di taman kotaku itu menyita perhatianku. Beberapa hari ini, aku sering berolahraga—cuma jalan kaki dan senam ringan, tanpa sengaja sering kulihat lelaki itu, suka senyam-senyum dan tertawa sendiri. Entah menertawakan apa.

Banyak orang—dan aku juga menyangka dia sebagai orang gila. Tingkahnya aneh, namun tidak menakutkan karena dia tidak pernah menyakiti orang-orang yang lewat. Tapi, kata banyak orang dia gila. Isyarat itu sering kudapatkan dari tukang kebun, yang setiap pagi membersihkan sampah-sampah yang berceceran di taman.

“Dia gila,” kata Mumu sambil menyilangkan telunjuknya di jidatnya.
“Dia orang buangan, kayak sampah, ditaro di situ, di sudut taman kota itu,” terang Mela, pedagang kupat tahu yang biasa mangkal di sana.

“Ya, lelaki itu, entah dari mana asalnya. Yang jelas, kini lelaki itu jadi penghuni setia taman kota ini,” tambah Medi, pedagang kopi dan rokok, seakan ikut menjelaskan.
“Saya sering lihat dia suka tertawa sendiri, kadang diam lama sekali. Kerjanya cuma tidur melulu. Tapi dia tak pernah ganggu orang yang lewat..” jelas Mela bersemangat.

Aku mengerutkan kening. Benarkah lelaki itu sengaja dibuang? Benarkah lelaki itu tidak gila? Kalau benar depresi kenapa tidak dititipkan saja ke pesantren atau kalau benar gila kenapa tidak dimasukkan saja ke rumah sakit jiwa?

Ya, aku sendiri sering melihat dia—setiap pagi aku suka mengelilingi taman kota dan melihat lelaki itu dengan santainya tiduran di atas taman. Dia suka bercakap sendiri dan tertawa sendiri. Dalam beberapa hari ini, sering kuamati dan aku menyangka dia pasti orang gila baru.
Kata Mela lagi, bahwa lelaki yang kuanggap gila itu, ternyata tidak gila. “Dia stres, frustasi, karena yang sudah membuang dia itu adalah anak kandungnya sendiri…”

“Dia jiwanya hancur…Dia sengaja dibuang, karena mungkin anak istrinya juga sudah tak sanggup mengurusnya,” timpah Medi.
“Dia bapak tua yang malang…”

Masya Allah. Aku kaget. Di saat aku merindukan figur seorang ayah, di saat aku membutuhkan semangat hidup dari bapakku, di sini, di taman ini, malah kusaksikan seorang ayah yang dibuang…

Malang benar nasibmu, ayah… Andaikata ayahku masih ada, tentu tindakanku tak akan seperti itu. Ayah akan aku tempatkan di rumah yang layak… Aku akan berjuang memberikan sesuatu yang paling berharga ini, khusus untuk ayah… Andaikata ayahku masih ada, dan hadir di sini, tentu aku akan bahagia.. Aku rindu padamu ayah…

“Kenapa kamu menangis….” Bu Mela mengagetkanku.
“Oh, tidak, aku hanya rindu ayah, Bu…”
“Memangnya ke mana ayahmu, Nak?”
“Ayahku sudah berpulang, di saat aku masih membutuhkan sosok ayahku…” tak kuat aku menahan air mata ini,”Ayahku menyusul ibuku yang duluan meninggal.”
“Oh, maaf, saya jadi menyinggungmu, Nak.”

“Tidak mengapa,” rupanya aku tak kuat menahan derasnya air mataku.
Lelaki itu, sudah menginspirasi aku untuk mengingat ayah. Betapa berdosanya aku. Aku belum bisa membalas budi baikmu, ayah…

“Aku pamit dulu, Bu,” kataku cepat sambil meninggalkan taman kota itu. Ku berjalan sendiri, dengan ransel di pundakku. Dengan gontai, aku susuri trotoar dan mengutuki nasibku. 

Betapa sangat menyesalnya aku. Saat ayah sakit, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku anak yang durhaka. Apa sesungguhnya yang kucari dalam kehidupanku ini? Mengapa ayah dan juga ibu sudah berpulang, di saat aku belum jadi apa-apa? 

Aku sudah berjalan dari kota ke kota. Entah, sudah berapa gunung juga kudaki. Aku sudah melakukan perjalanan yang sudah menghabiskan waktuku. Tapi, aku sebenarnya mencari apa? Aku lunglai…
Wajah lelaki tua itu kembali mendatangi alam pikiranku. Rambut gimbal, kerutan pipinya, pakaian yang semrawutan, dan matanya yang menerawang, terus membayangiku. Aku gelisah siang dan malam. Kini aku jadi rindu pada lelaki itu—setidaknya untuk mengingat sosok ayah.

Terdengar sebuah lagu ayah mengalun dalam mata batinku. Di mana, akan kucari…/Aku menangis, seorang diri/Hatiku, slalu ingin bertemu/Untukmu, aku bernyanyi/Untuk ayah tercinta/Aku ingin bernyanyi/Walau air mata di pipiku….

*

Pada hari yang lain, dengan perlahan, aku mendekati lelaki misterius itu—yang kusangka gila dan dibuang anaknya itu.
“Aku tidak gila, aku waras…” Lelaki itu tiba-tiba menatapku. Tak sadar di saat kucari-cari dia, lelaki itu sudah di belakangku.
“Jangan buang aku di sini, Nak,” katanya.
Aku masih tidak percaya bahwa lelaki itu tidaklah gila.
“Jangan lihat dari fisiknya saja, tapi kau lihat ke dalam lubuk hati,” serunya lagi.
Andaikata ayahku masih hidup, mungkin usianya akan seperti lelaki itu.
Aku gugup dan hanya diam.

“Andaikata kau anakku, tentu kau tak akan buang aku di sini kan?” Tanyanya berkerut ke arahku lagi.
Lelaki itu memeluk tubuhku. Sangat kuat. Aku menahan baunya yang minta ampun. Lagi-lagi lelaki itu memelukku dengan erat dan menangis.
“Aku rindu anakku,” ucapnya.
“Aku juga rindu ayah,” balasku lirih.

Aku tak peduli—kendati ini bukan ayahku, tapi setidaknya aku merasakan kehangatan dan ketulusannya. Bertahun-tahun, aku tak menemukan sosok ayah, yang sudah kubanggakan dalam hidupku.
“Jabatan itu neraka. Jabatan itu musibah. Sekarang aku menderita anak-anakku membuangku di sini.”
Ia mengaku sangat tersiksa hingga kini anak-anaknya tak mau mengakui lagi sebagai bapak. Semasa muda dia adalah seorang pejabat yang terhormat. Kariernya melesat cepat. Kepercayaan dan amanah yang disandangnya menjadi kekuasaan yang langgeng. Hingga ia terpeleset akibat tangan jahilnya—sering menyunat dana bantuan untuk masyarakat. “Aku dituduh korupsi akhirnya aku terjatuh…” sesalnya.

Dia melanjutkan, setelah diketahui publik, akhirnya stres dan stroke…. Dia jadi bulan-bulanan media. Wartawan yang dulu memuji kinerjanya berbalik arah malah memberitakan segala boroknya, bahkan hingga tahinya pun terus dikupas. “Aku sakit…dan orang-orang yang dulu mengagungkanku makin jauh meninggalkanku…”

Ia juga bercerita semasa muda dikenal ketampanannya dan banyak perempuan lengket padanya. “Aku playboy. Aku banyak uang, perempuan makin nempel kayak perangko…”
Dia menambahkan,  sebagai seorang pembisnis uang dan kekuasaan adalah segalanya.
“Aku beli semua wanita dengan uang. Aku memiliki segalanya…”

Hingga ia tak sadar setelah jabatan dan kekuasaannya habis, ia ditendang istri dan pacar-pacarnya, bahkan anak-anaknya pun. “Hingga aku dibuang ke sini…Ha…ha…” Teriaknya.
Lelaki itu bagaikan mengenang kisah lalunya, nostalgia hingga nostalgila…Pahit getir kehidupan. Tapi sekarang dia adalah seorang pesakitan. Tatapan matanya lurus ke depan tapi kosong. Sorotnya tajam tapi tidak focus melihat apa. Ada banyak rasa sesal dalam hatinya. Namun dia juga merasa cemas dan takut akan mati.

“Ke mana anak-anakku? Kalau aku mati siapa yang akan menguburkanku…” ia menangis lagi.
“Pergilah, Nak, tinggalkan aku di sini….” Pintanya.
Aku pun pergi sambil terus menoleh ke arahnya. Sungguh mengenaskan nasibmu, ayah. Tanpa sadar aku kini menyebutnya sebagai ayah.

*

Beberapa bulan kemudian, walikota marah. Berita taman kota yang kini dihuni lelaki itu menjadi headline di berbagai media massa. Mendadak dia menggelar rapat koordinasi terbatas (Rakortas) dengan jajarannya.
“Buang dia…” perintah sang walikota.
“Siap, laksanakan…” kata sang asisten.
“Dia merusak citra kota.”
“Bisa jadi kita gagal raih adipura…”
Aku menyaksikan lelaki tua itu diciduk dimasukkan ke mobil keamanan.
“Buang ke kota lain…”
“Siap, komandan…”
Dia bagaikan kerbau dicocok hidungnya dan benar-benar merasakan hidupnya seperti sampah. Nau’dzubillahi min dzalik.***

kota wali 141214, Garib Ganjar Santika, seorang pejalan kaki, menyandang ransel dan menulis untuk hidup, hidup untuk menulis.

Akankah Keadilan Ditemukan?



Bebegig

Cerpen Garib Ganjar Santika



Sinar matahari terasa menyengat kepala. Letih badanku terasa kaku. Keringat membanjiri sekujur tubuh ini. Tapi, aku tak boleh mengeluh. Aku berusaha ikhlas. Sumpahku—atau lebih tepat nazarku, sejak aku tak dipercayai lagi sebagai orang jujur, aku rela menjadi bebegig.
Aku dikutuk jadi bebegig.

“Kalo begitu aku jadi bebegig saja. Berdiri dengan tegak, tak peduli panas mentari menyengat. Aku bantu petani di sawah mengusir burung, tikus, dan ular. Begitulah, keseharianku, seakan-akan aku bekerja bersama sang petani,” sumpahku tak bisa kutahan lagi.
Hahaha…Ada ada aja…Hahaha… Banyak orang menertawakanku. Banyak pula yang mengejekku, bahkan menghinaku. Tapi aku tak peduli.

“Kalo bernazar itu harus yang bagus-bagus, masa kamu menjadi bebegig?”
“Haha…makanya janganlah kamu bernazar semaunya…rasain kamu..rasain jadi bebegig yang sesungguhnya?”
“Tobatlah kau….kembalilah ke jalan yang benar..Tuhan pasti akan mengabulkan kembali permohonanmu..menjadi manusia lagi….”
Tak peduli orang ngomong apa. Aku sudah mewujud menjadi bebegig. Aku merasakan hidup ini lebih indah, lebih bermanfaat menjadi bebegig. Di sini, di sawah ini, aku sangat asyik bersama sang petani. Jauh dari rasa dengki, syirik, ria, dst. Pokoknya aku mending jadi bebegig. Titik.

**
Mang Ihin pagi itu sangat bahagia sekali. Dia baru saja belanja dari pasar dengan membawa pakaian serba baru. Masa Allah, ternyata dia mendandaniku dengan pakaian yang bagus-bagus. Lucunya, dia juga belikan topi dan kacamata hitam. Tak ketinggalan sepatu keren dipakaikannya ke kakiku. Amboi alangkah cakepnya aku…
“Cup cup cup….keren juga kau,” seru Mang Ihin.

Dia tampaknya terkesan dengan penampilanku. Aku tersipu malu. Hehe, emang gue cakep bro…
Mang Ihin mencoba menggerakkan tali yang menghubungkan dengan tubuhku. Dia menariknya dengan pelan dan menggerakkanku. Aku hidup. Aku bergerak. Melihat ke sekeliling. Angin yang datang dari kejauhan terasa dingin menyentuh tubuhku. Hohoy….asyiknya menjadi bebegig.
Seekor burung mendekat dan menatapku diam-diam. Burung itu malah tak takut. Mungkin dia juga penasaran, siapa sesungguhnya aku?

Mang Ihin sembari bernyanyi dengan riang terus menggerakkan tali-tali bebegig dengan santainya. Dia sangat bahagia. Hatinya sangat senang. Hingga dia tak menyadarinya, angin terus menghembuskan nafasnya yang dingin dan syahdu. Lelaki tua itu mengantuk…
Aku tersenyum kecut. Pagi ini aku sudah memberikan kenikmatan kepada seorang petani, yang setia setiap hari menjaga sawah. Mang Ihin pernah bilang kepadaku, sejak aku jadi bebegig dia merasakan hidup menjadi lebih berarti. Hidupnya terasa aman dan nyaman.

***
Kampungku geger. Pemilik bebegig Mang Ihin tiba-tiba banyak dicari orang. Gaga-gara mendandani aku layaknya manusia. Banyak juga warga kampung yang menilai, bahwa Mang Ihin sudah gila. Ada juga yang menilai, lelaki yang tak punya anak itu, suka bercakap-cakap dengan bebegig. Aneh bin ajaib, kata mereka.
Apa benar bebegig kepunyaan Mang Ihin bisa berdialog? Apa benar pula, bebegig suka berceramah saat tengah malam? Bahkan, Mang Ihin jadi sering menginap di sawah bersama bebegig. Ada pendapat yang lebih gila lagi, Mang Ihin sudah kawin dengan bebegig? Ada-ada saja pendapat orang.

“Kalau akang sudah tak cinta sama saya, ceraikan saja….” Celetuk Inah, istrinya Mang Ihin.
“Maksud kamu apa Inah?” Tanya Mang Ihin dengan dahi mengerut.
“Saya adalah istrimu yang sudah resmi dinikahi, masa tiap malam nginap terus di sawah dan selalu bercumbu dengan bebegig sawah?” Inah benar-benar marah.
“Apa maksudmu, akang semakin tak mengerti….”

Lebih tidak mengerti lagi, saat banyak wartawan mendatangi Mang Ihin. Jadinya dia mirip selebritis dadakan.
“Apa benar bebegig yang dipelihara Mang Ihin itu bisa hidup?” Tanya salah seorang pewarta yang datang ke kampung.
“Bisa dijelaskan Pak, bagaimana riwayatnya, dan apakah ada bukti-buktinya, bahwa bebegig itu bisa ngomong….bahkan ceramah….” Seru yang lainnya dengan semangat.

Mang Ihin diam seribu bahasa.
“Maaf bapak-bapak, eu, maaf semuanya…tidak usah diberitakan….” Mang Ihin ingin segera menghindar dari kejaran wartawan.
Justru dengan pernyataan dia kepada para kuli tinta itu, makin banyak orang penasaran. Dengan tidak usah diberitakan, sama halnya dengan ada pembenaran di balik peristiwa itu. Orang-orang makin penasaran, apa sebenarnya hubungan antara petani itu dengan bebegig sawah?

****

Pada suatu malam, bulan purnama tampak anggun. Mang Ihin duduk di saung sambil leleson. Dia kelihatan sangat cape. Pikirannya kalut. Terngiang-ngiang kata-kata istrinya Inah, yang memintanya cerai. Dia menerawang, tatapan matanya lurus dan kosong.

Hidup ini sudah kulalui dengan penuh kebohongan. Orang-orang saling berebut mencari kedudukan. Demi mendapatkan kekuasaan, banyak orang dikibuli. Kini, banyak orang lupa. Semua berbuat untuk mempertahankan dirinya sendiri, memperkaya dirinya sendiri. Mereka sudah rakus, sudah serakah. Bau busuk menyengat di udara. Batas antara baik dan buruk sudah tidak ada. Semuanya ingin menindas yang lemah. Yang kuat ingin menguasai segalanya.
Argh…..aaaa……

Di manakah keadilan itu? Siapa yang telah mencuri uang rakyat? Di manakah keadilan itu? Siapa yang sudah membunuh hak-hak rakyat? Kepada siapakah kita berlindung? Akankah keadilan itu akan ditemukan?

Mang Ihin terkesima. Diingatnya kata-kata itu dan dia bicara sendiri. Itulah, sepenggal kalimat yang sudah kuucapkan saat aku berdialog dengannya. 

“Jadi kamu sebetulnya pernah bekerja di mana?” Tanya Mang Ihin kepadaku.
“Aku pernah menjadi sebagai politikus, tapi aku juga ga bisa apa-apa saat bekerja,” elakku.
“Jadi kamu mengkhianati dirimu sendiri, toh?”
“Bukan aku korban politik,”
“Kamu tak melawan?”
“Aku pasrah…”
“Tapi mengapa kamu hidup memilih jadi bebegig?”
“Bebegig orangnya jujur. Gaya berdirinya tegak. Pandangannya lurus. Tidak pernah mengeluh. Setia dalam bertugas…”
“Emang kamu pernah ga jujur jadi manusia?”
“Iya….saya korupsi…”
“Musuh KPK dong?”
“Bukan musuh bebegig hehe….”

Itulah sebabnya, aku dikutuk oleh diriku sendiri menjadi bebegig. Sekarang kalian tahu kan, banyak orang yang mencuri, merampok, memperkosa, dan membunuh hanya untuk satu tujuan melanggengkan kekuasaan, memperbanyak materi, untuk dunia fana ini. Banyak orang lupa akan mati. Seakan-akan hidup akan selamanya. Seakan-akan harta dan jabatan akan dibawa ke alam kubur. 

Orang jujur saat ini sulit dicari. Yang ada sekarang ini adalah dazal bermata satu. Hatinya garang, nafasnya racun. Dia tamak. Rakus. Bejad moral. Biadab. Bengis. Jahanam.

Prok…prok….prok……tepuk tangan terasa membahana. Mang Ihin alangkah kagetnya. Warga kampung sudah menyaksikan adegan dialog antara sang petani dan sang bebebig. Aku tersipu malu, tak dinyana, orang-orang kampung sudah merencanakan semuanya. Nonton bareng. Aku memegang mikropon: saudara-saudara sekalian, bila kalian mengaku orang-orang jujur, ikutilah denganku menjadi bebegig. Dan bila kalian tidak jujur, tetaplah jadi manusia…

Majalengka 241014



.